Senin, 04 Juni 2007

UART

UART banyak digunakan dalam komunikasi data seri dengan format data yang spesifik.

IC 89C51 memiliki fasilitas cukup lengkap, salah satu fasilitas yang ada adalah UART pada IC ini yang dipakai untuk pengiriman dan penerimaan data secara seri (P3.0 sebagai Rx dan P3.1 sebagai Tx), namun dalam kenyataannya UART yang ada pada IC AT89C51 bukanlah UART yang sebenarnya, sehingga untuk keperluan alat peraga dibuat simulasi untuk membuat sebuah UART Software dengan menggunakan IC AT89C51 sehingga proses pengiriman data dengan menggunakan UART dapat dimengerti dengan baik, juga diketahu kesalahan yang mungkin terjadi pada proses transmisi. Untuk mendukung UART Software yang dibuat, dibuat juga modul UART, dimana modul ini terdapat 4 buah tampilan 7 ruas untuk mengetahui data yang dikirim dan diterima. SW1 berupa DIP Switch dipakai untuk memberikan input data yang akan dikirim, sedangkan switch yang lain digunakan untuk mengontrol status dari data yang akan dikirim dan diterima. Push button yang digunakan berfungsi untuk menandakan pengiriman data (Strobe Data). Selain itu juga diberikan indikator kesalahan dari data yang diterima berupa LED dan status data yang diterima.

Adapun Gambar panel dari modul UART yang dibuat dapat dilihat sebagai berikut:


Gambar 1

Panel Modul UART


Serial Input dan Serial Output

Dalam keadaan mula-mula tanpa sinyal (tidak ada data yang dikirim ataupun tidak ada data yang diterima), serial port (Tx dan RX) dalam keadaan high (logic ‘1’) dikenal dengan Marking State, namun apabila terdapat pengiriman data secara serial asinkron terjadi pengiriman data dengan format tertentu yaitu seperti yang terlihat pada gambar 2 di bawah:


Gambar 2

Format Data Transmisi Serial Asinkron

Pengiriman data selalu diawali dengan start bit (selalu low ‘0’) kemudian selalu diakhiri dengan bit (selalu high ‘1’), Dalam pengiriman Data secara serial dikenal dengan Baudrate yaitu banyaknya bit yang dikirimkan dalam waktu satu detik. Misalnya baudrate suatu sistem serial adalah 9600 berarti dalam 1 detik terdapat pengiriman sebanyak 9600 bit. Baudrate ini harus sama antara pengirim dan penerina agar kesalahan tidak terjadi. Baudrate standard antara lain adalah 19200, 9600, 4800, 2400,1200, 600, 300, 150, 110, 100 dan 75.

Untuk mensinkronkan antara pemancar dan penerima digunakan start bit. Setelah start bit, bit-bit data dikirimkan satu persatu secara bergantian dimulai dari LSB (Least Significant Bit) hingga MSB (Most Significant Bit) Kemudian bila perlu dikirimkan parity untuk mendeteksi bilamana terdapat kesalahan dalam transmisi. Kemudian akan berlogika ‘1’ selama waktu paling sedikit 1 bit untuk menunjukan bahwa data karakter sudah berakhir. Bit terakhir ini dikenal dengan stop bit.

Dari gambar 2 di atas dapat dilihat bahwa data yang hendak dikirim diletakkan dalam sebuah bingkai (frame) yaitu start bit dan stop bit dan pengirimannya dilakukan per bit melalui start bit, sampai stop bit yang terakhir. Oleh karena itu data yang dikirim harus digeser setiap kali telah terjadi pengiriman 1 bit data. Berikut ini adalah potongan program untuk mengirimkan data per bit melalui P3.1 kemudian menggeser data tersebut.

Potongan Program 1 – Pengiriman Data

1 : PENGIRIMAN_DATA:

2 : SETB ENDOFTX

3 : CJNE R0,#0,KIRIMDATA

4 : CLR P3.1

5 : CLR PULSER

6 : SETB PULSER

7 : CLR PULSER

8 : INC R0

9 : MOV COUNT1,#KONSTANTA

10 : SJMP CHECKAGAIN

11 : KIRIMDATA:

12 : DJNZ COUNT1,CHECKAGAIN

13 : MOV COUNT1,#KONSTANTA

14 : CJNE R0,#9,K_STOPBIT

15 : MOV C,T_DATA9

16 : MOV P3.1,C

17 : CLR PULSER

18 : SETB PULSER

19 : CLR PULSER

20 : INC R0

21 : SJMP CHECKAGAIN

22 : K_STOPBIT:

23 : CJNE R0,#10,K_STOPBIT2

24 : JNB NO_PAR,DATA10

25 : JB STOP,DATA10

26 : MOV R0,#0

27 : CLR TRANSMIT

28 : CLR ENDOFTX

29 : SJMP CHECKAGAIN

30 : DATA10:

31 : MOV C,T_DATA10

32 : MOV P3.1,C

33 : CLR PULSER

34 : SETB PULSER

35 : CLR PULSER

36 : INC R0

37 : SJMP CHECKAGAIN

38 : K_STOPBIT2:

39 : CJNE R0,#11,SELESAIKIRIM

40 : JB NO_PAR,SELESAI

41 : JB STOP,DATA11

42 : SELESAI:

43 : SETB P3.1

44 : CLR PULSER

45 : SETB PULSER

46 : CLR PULSER

47 : MOV R0,#0

48 : CLR TRANSMIT

49 : CLR ENDOFTX

50 : SJMP CHECKAGAIN

51 : DATA11:

52 : MOV C,T_DATA11 ;KIRIM T_DATA11

53 : MOV P3.1,C

54 : CLR PULSER ;BUAT PULSA UNTUK LA

55 : SETB PULSER

56 : CLR PULSER

57 : INC R0 ;FLAG DATA DINAIKKAN

58 : SJMP CHECKAGAIN ;CHECK RECEIVE

59 : SELESAIKIRIM:

60 : CJNE R0,#12,DATAYANGDIKIRIM

61 : MOV R0,#0 ;SEMUA FLAG DIBERSIHKAN

62 : CLR TRANSMIT

63 : CLR ENDOFTX

64 : CHECKAGAIN:

65 : RET

Potongan Program 2 – Penerimaan Data

1: PENERIAMAAN_DATA:

2: INC R1

3: MOV C,P3.0

4: MOV A.7,C

5: ANL A,#10000000B

6: ORL A,BUFFER2

7: MOV BUFFER2,A

8: RET

Program di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: R1 digunakan sebagai tanda jumlah bit yang telah diterima. Data pada port Rx akan disimpan pada buffer2 melalui MSB dan dengan menggunakan sifat dari gerbang OR dan AND maka data akan digeser terus sampai waktu tertentu (tergantung konfigurasi yang ditentukan). Program ini juga harus diletakan pada interupsi timer agar terbentuk baudrate yang tetap sehingga data yang diterima adalah benar.

Data Input dan Status Input

Untuk mengirimkan data pada serial port, hal yang harus dilakukan pertama kali adalah memberikan data input dan status data yang akan dikirimkan. Untuk mengambil data digunakan Dip Switch-8 sedangkan untuk mengambil status dari data digunakan Switch DPDT yang masing-masing dihubungkan pada port 0 dan port 2 dari AT89C51.

Proses pengambilan data dan status dapat dilihat pada potongan program sebagai berikut:

Potongan Program 3 – CheckD_Strobe

1: CHECKD_STROBE:

2: JB D_STROBE,ENDD_STROBE

3: MOV A,P0

4: CPL A

5: MOV DATAKIRIM,A

6: MOV BUFFER1,DATAKIRIM

7: ACALL ISIDATA9

8: ACALL PECAHKAN_DATA_OUT

9: SETB TRANSMIT

10: ENDD_STROBE:

11: RET

Apabila potongan program ini dipanggil akan melihat apakah pada D_STROBE adalah low, apabila low maka data akan disimpan pada variabel DATAKIRIM, setelah itu akan diletakan pada BUFFER1, sebagai tempat untuk menggeser data agar data dapat dikirim secara bit per bit. Namun sebelumnya perlu dibangkitkan dahulu data ke 9 ke 10 dan ke 11 dari data yang akan dikirim berupa parity, dan stop bit. Hal ini dapat dilihat pada baris ke 7 dari potongan program di atas, dimana pada baris ke 7 ini akan dipanggil sub-rutin untuk mengisikan data ke 9, ke 10 dan ke 11 dari data yang akan dikirimkan.

Pada baris ke 8 akan dipanggil sub-rutin untuk memecahkan data yang akan dikirim agar dapat ditampilkan pada tampilan 7 ruas seperti yang telah dijelaskan pada potongan program 1. Pada baris ke 9 Flag untuk transmit diaktifkan untuk menandakan bahwa terdapat data yang akan dikirimkan.

Potongan Program 4 – CheckC_Strobe

1: CHECKC_STROBE:

2: JB C_STROBE,ENDC_STROBE

3: MOV C,P2.1

4: MOV STOP,C

5: MOV C,P2.2

6: MOV PAR,C

7: MOV C,P2.3

8: MOV NO_PAR,C

9: ENDC_STROBE:

10: RET

Potongan program di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: STOP, PAR dan NO_PAR merupakan variabel penampung status data. Namun sebelum disimpan pada masing-masing variabel, dilihat dulu apakah pada C_STROBE adalah low (baris ke 2 dari potongan program), apabila low baru semua status disimpan. Hal ini dimaksudkan agar status dari data tidak berubah-ubah.


Tampilan 7 Ruas

Untuk menampilkan data yang dikirim digunakan 2 buah tampilan 7 ruas LED yang dibentuk dengan D1 dan D2 sedangkan untuk menampilkan data yang diterima digunakan 2 buah lagi tampilan 7 ruas LED yang dibentuk dengan D3 dan D4. Keempat display 7 ruas itu dinyalakan secara bergantian dengan frekuensi yang tinggi dengan menggunakan prinsip multipeks, sehingga seolah-olah akan nampak nyala secara terus menerus.

Proses pengaturan sistem tampilan itu semuanya diatur melalui program yang telah disimpan dalam ROM AT89C51. Potongan program itu seperti berikut:

Potongan Program 6 – Program Timer1Interupt:

1: TIMER1INTERUPT:

2: MOV P1,KIRIM1

3: ACALL DELAY

4: MOV P1,KIRIM2

5: ACALL DELAY

6: MOV P1,TERIMA1

7: ACALL DELAY

8: MOV P1,TERIMA2

9: DELAY:

10: PUSH A

11: MOV A,#3

12: DJNZ A,*

13: POP A

14: RET

Potongan program di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :kirim1, kirim2, terima1 dan terima2 merupakan variabel yang berfungsi untuk menampung kombinasi tertentu yang akan menampilkan display tertentu pada tampilan 7 ruas, dimana isi dari variabel ini dirubah pada bagian lain dari program sesuai dengan perubahan yang terjadi pada variabel ini. Kemudian isi dari variabel ini diumpankan pada port 1 (baris 2, 4, 6 dan 8 pada potongan program di atas), untuk mengendalikan sistem tampilan pada modul ini.

Delay merupakan sub-rutin yang berfungsi untuk menunda waktu, agar angka yang ditampilkan bisa tertahan sesaat sebelum berganti. Pada baris ke 10 aliran program dikembalikan ke program utama. Dimana potongan program ini diletakan pada interrupt timer 1 sehingga akan terus dipanggil apabila telah terjadi interrupt pada timer 1.


Output LED

Pada modul serial yang dibuat ini terdapat output LED yang memberikan tanda berupa parity yang diterima dan error yang terjadi apabila terjadi error. Error yang diperiksa adalah parity error, framing error dan overrun error. Parity Error akan terjadi apabila parity yang diterima dalah tidak sama dengan parity yang dibangkitkan oleh AT89C51 terhadap konfigurasi modul. Framming error adalah error yang terjadi karena stop bit yang diterima adalah salah. Sedangkan Overrun Error adalah error yang terjadi karena data pada buffer belum dipindahkan namun telah terjadi penerimaan data baru (data tertumpuk). Berikut ini adalah potongan program yang berfungsi untuk menampilakan output LED

Potongan Program 7 – Out

1: OUT:

2: CLR O_FLAG

3: JB NO_PAR,NOPARITYSELECT

4: SJMP PARITYSELECT

5: NOPARITYSELECT:

6: SETB PARITY

7: SETB P_ERROR

8: SJMP ERR_YG_LAIN

9: PARITYSELECT:

10: MOV C,R_DATA9

11: MOV PARITY,C

12: JC SATU

13: JNB PAR,NOLGENAP

14: JB PARBANGKIT0,TERJADIP_ERROR

15: SJMP NO_PAR_ERROR

16: NOLGENAP:

17: JB PARBANGKIT,TERJADIP_ERROR

18: SJMP NO_PAR_ERROR

19: SATU:

20: JNB PAR,SATUGENAP

21: JNB PARBANGKIT0,TERJADIP_ERROR

22: SJMP NO_PAR_ERROR

23: SATUGENAP:

24: JNB PARBANGKIT0,TERJADIP_ERROR

25: SJMP NO_PAR_ERROR

26: TERJADIP_ERROR:

27: CLR ERROR1

28: SJMP ERR_YG_LAIN

29: NO_PAR_ERROR:

30: SETB ERROR2

31: ERR_YG_LAIN:

32: ACALL FRAMMING_CHECK

33: ACALL OVERRUN_CHECK

34: END_TOTAL:

35: MOV C,ERROR1

36: MOV P_ERROR,C

37: MOV C,ERROR2

38: MOV O_ERROR,C

39: MOV C,ERROR3

40: MOV F_ERROR,C

Penjelasan program adalah sebagai berikut : pada baris 3 akan dilihat dulu konfigurasi dari status data, apabila no-parity maka parity dan parity error akan tidak aktif. Apabila ada parity maka akan dibangkitkan parity berdasar pada data yang telah diterima dan akan dibandingkan dengan parity yang diterima (baris 14, baris 17, baris 21, dan baris 24) apabila terjadi error maka LED akan dinyalakan dengan perintah ‘CLR ERROR1’. Kemudian akan dipanggilkan rutin framming_check dan overrun_check

Potongan Program 8 – Frame _Check:

1: FRAME_CHECK:

2: JNB NO_PAR,DATAKE9

3: JB STOP,SBITADA21

4: JNB R_DATA10,TERJADIFRAMMING

5: SJMP TIDAKTERJADIFRAMMING

6: SBITADA21:

7: JNB R_DATA10,TERJADIFRAMMING

8: JNB R_DATA11,TERJADIFRAMMING

9: SJMP TIDAKTERJADIFRAMMING

10: DATAKE9:

11: JB STOP,SBITADA2

12: JNB R_DATA9,TERJADIFRAMMING

13: SJMP TIDAKTERJADIFRAMMING

14: SBITADA2:

15: JNB R_DATA9,TERJADIFRAMMING

16: JNB R_DATA10,TERJADIFRAMMING

17: TIDAKTERJADIFRAMMING:

18: SETB ERROR3

19: SJMP KEMBALIFRAMMING

20: TERJADIFRAMMING:

21: CLR ERROR3

22: KEMBALIFRAMMING:

23: RET

Potongan program di atas hanya melihat apakah stop bit yang diterima adalah ‘1’ apabila ‘0’ maka akan ditampilakan pesan kesalahan, namun sebelum itu perlu dilihat dulu dimana letak stop bit dan ada berapa buah stop bit yang ada. Pengecekan jumlah stop bit dapat dilihat pada baris 3 dan baris 11. Sedangkan pengecekan awal stop bit dapat dilihat pada baris ke 2. Pada baris 18 dan baris 21 memberikan tampilan kesalahan pada LED.

Materi lain yang dapat di download :

1. Assembly Listing

2. Skematik rangkaian Modul UART dalam format PDF (Portable Data Format).


Oleh Susanto W.K


Virus Lokal

Karena maraknya virus lokal yang berkembang belakangan ini, waduh banyak membuat kerugian. Saya pun kecolongan juga …. sedih …

Semua file yang saya punya baik itu word, excel, jpeg, dll tiba-tiba berubah setelah saya tidak sengaja meng-klik suatu file yang iconnya sama persis dengan file msword tetapi rupanya file itu adalah suatu aplikasi. Nasi sudah menjadi bubur, kalau yang sudah terlanjur ya mo ngapain lagi selain berharap mengembalikan file seperti semula dan menghapus induk semang virus itu. Untuk daripada itu ini ada referensi web bagi kamu-kamu yang mencari removal atau anti virus.

Untuk menangani virus lokal, kamu bisa coba download di sini :


Sumber data : virusindonesia.com dan pcmedia.co.id

Referensi ini saya posting karena semua file baik itu transfer data maupun flasher pada handphone biasanya menggunakan komputer sebagai media. Kalau medianya terkena virus berarti handphone atau ponsel anda juga membawa virus donk, he3.

Referensi link untuk update antivirus pada komputer Anda :

Tapi yang paling penting, apapun itu, baik itu handphone maupun komputer Anda. Paling tidak yang pertama usahakan buatlah back up sebagai antisipasi apabila ada kejadian virus-virus yang nakal. Dan selalu waspada dengan adanya file-file yang kurang jelas dan tidak kita ketahui pada koneksi transfer data baik itu bluetooth, infrared, USB, download data, download attachment pada email, dll.

Semoga Bermanfaat.

Free Download Theme For Symbian

Download theme gratis untuk Anda, khusus untuk ponsel dengan fitur symbian. Top theme dengan tema kartun.



Theme LOVE

Download Theme Here


Theme I LOVE U

Download Theme Here


Theme
Tweety


Theme All Cartoon

Download Theme Here


Untuk Download klik kiri atau left click pada link.

Sabtu, 02 Juni 2007

A-SMS, SMiles in your SMS

SMS adalah salah satu media komunikasi selain hubungan telepon, selain lebih hemat dengan kata-kata kalimat saja, serta praktis kalau untuk sesuatu yang mendesak, seperti kalau waktu nggak ada pulsa, he3x.

Ini ada aplikasi bagi kamu-kamu yang bisa mengungkapkan emosi dan perasaan kamu melalui sms secara lebih dalam. Karena dengan menginstall aplikasi ini, maka sms kamu bisa ditambah dengan fungsi tambahan smile, dengan syarat kedua HP baik itu pengirim atau penerima sama-sama menginstall aplikasi ini. Aplikasi ini gratis euy, alias nggak bayar satu sen pun, mau ???.

Contoh Smiles :

*Khusus untuk handphone dengan fitur Symbian60 termasuk Nokia 5500 Sports, 5700 Xpress Music, 6290, N71, N73, N76, N80, N93, N95, E50, E60, E61, E65, E70.

More Animations Click Picture :


Selamat Mencoba, dan jangan lupa sms-an terus ya ….

Download Aplikasi Here atau Klik Di SINI







Radio Control untuk mobil mainan

Bermain mobil-mobilan yang dikendalikan lewat sinyal radio merupakan permainan yang menarik. Mobil mainan yang banyak digemari anak-anak, dengan ditambah rangkaian sederhana ini akan menjadi mobil mainan idaman. Rangkaian ini mengggunakan IC digital keluarga CMOS yang memerlukan arus listrik sangat kecil, sehingga tidak akan membebani kinerja mobil mainan asli.

Dalam sistem ini, sinyal radio tidak terus menerus dipancarkan tapi hanya dibangkitkan saat pengontrol mengirimkan perintah kanan/kiri atau maju/mundur, itupun hanya merupakan frekuensi radio yang terputus-putus, sehingga merupakan pengiriman pulsa-pulsa frekuensi gelombang radio.

Jumlah pulsa yang dikirimkan mewakili perintah yang dikirim, perintah MAJU diwakili dengan 8 pulsa, KIRI diwakili dengan 16 pulsa, KANAN 32 pulsa dan MUNDUR 64 pulsa. Perintah yang dikirimk bisa merupakan gabungan dari 2 perintah sekali gus, yaitu gabungan dari perintah maju/mundur dan kanan/kiri, sebagai contoh bisa dikirimkan perintah maju dan kiri sekali gus, dalam hal ini jumlah pulsa yang dikirim adalah 24, yaitu penjumlahan dari perintah maju sebanyak 8 pulsa dan perintah kiri sebanyak 16 pulsa.

Setelah sebuah perintah dikirim, sistem menghentikan pengiriman perintah dalam jeda waktu tertentu, jeda waktu ini diperlukan akan rangkaian penerima mempunyai waktu yang cukup untuk melaksakan perintah dengan baik. Pulsa-pulsa frekuensi itu terlihat dibagian kanan atas Gambar 1.


Gambar 1
Rangkaian Pemancar Radio Control

Cara kerja Pemancar

Sinyal radio dibangkitkan dengan rangkaian osilator yang dibentuk dengan transistor Q1 9016, frekuensi kerja dari osilator ini ditentukan oleh kristal Y1 yang bernilai 27,145 MHz. Bagian yang sangat kritis dari rangkaian osilator ini adalah T1, L1 dan L2, yang khusus dibahas tersendiri dibagian akhir artikel ini.

Kerja dari osilator ini dikendalikan oleh gerbang NOR U2D 14001, saat output gerbang (kaki nomor 3) ini bernilai ‘1’, osilator akan bekerja dan mengirimkan frekuensi radio 27,145 MHz, dan pada saat output U2D bernilai ‘0’ osilator akan berhenti bekerja.

Gerbang NOR U2D menerima sinyal clock dari gerbang NOR U2B. Gerbang NOR jenis CMOS dengan bantuan resistor R4 dan R5 serta kapasitor C8 membentuk sebuah rangkaian oscilator frekuensi rendah pembentuk clock untuk mengendalikan rangkaian digital yang ada. Kerja dari pembangkit clock ini dikendalikan lewat input kaki 6, rangkaian akan membangkitkan clock kalau input ini berlevel ‘0’.

Gerbang NOR U2A dan U2C membentuk sebuah rangkaian Latch (RS Flip Flop), karena pengaruh resistor R2 dan kapasitor C11 yang diumpankan ke kaki nomor 9 di U2C, pada saat rangkaian mendapat catu daya output U2C pasti menjadi ‘1’ dan output U2A (kaki nomor 3) menjadi ‘0’. Keadaan ini akang mengakibatkan pembangkit clock U2b bekerja membangkitkan clock dan melepas keadaan reset IC pencacah 14024 (U1), sehingga U1 mulai mencacah dan rangkaian osilator 27,145 MHZ mengirimkan pulsa-pulsa frekuensi selama pembangkit clock bekerja.

Pada saat mulai mencacah, semua output IC pencacah 14024 dalam kedaan ‘0’, setelah mencacah 8 pulsa maka output Q4 (kaki nomor 6) akan menjadi ‘1’, setelah mencacah 16 pulsa output Q5 (kaki nomor 5) menjadi ‘1’, setelah mencacah 32 pulsa output Q6 (kaki nomor 4) menjadi ‘1’, setelah mencacah 64 pulsa output Q7 (kaki nomor 3) menjadi ‘1’.

Output-output diatas dipakai untuk mengendalikan tegangan kaki 9 U2C lewat diode D1 dan D2, selama salah satu output itu masih bernilai ‘0’ maka pembangkit clock U2B masih bekerja, hal ini akan berlangsung terus sampai katode D1 dankatode D2 menjadi ‘1’ sehingga kaki 9 U2C menjadi ‘1’ pula. Keadaan ini akan mengakibatkan output kaki 3 U2A menjadi ‘1’, yang menghentikan pembangkit clock U2B dan me-reset pencacah 14024 danberhenti sudah pengiriman pulsa frekuensi 27.145 MHz.

Untuk membangkitkan jeda waktu agar rangkaian penerima mempunyai cukup waktu melaksanakan perintah, dipakai rangkaian Q2 9014, resistor R7 dan kapasitor C10. Besarnya waktu jeda ditentukan oleh besarnya nilai R7 dan C10. Saklar untuk mengirim perintah maju/mundur dan untuk mengirim perintah kiri/kanan merupakan dua saklar yang terpisah. Masing-masing saklar mempunyai 3 posisi, posisi tengah berarti skalar itu tidak mengirim perintah.

Cara kerja Penerima

Gambar 2 merupakan gambar rangkaian penerima yang dipasangkan dimobil-mobilan, berfungsi menerima sinyal dari pemancar untuk mengendalikan motor mobil-mobilan , agar mobil-mobilan bisa bergerak maju/mundur dan kiri/kanan. Transistor Q1 dengan bantuan resistor; kapasitor dan T1 membentuk sebagai rangkaian penerima sinyal radio 27,145 MHz. T1 dalam rangkaian ini persis sama dengan T1 yang dipakai di rangkaian Pemancar, cara pembuatannya dibahas dibawah.

Transistor Q2 berikut perlangkapannya membentuk rangkaian untuk merubah pulsa-pulsa frekuensi radio yang diterima dari pemancar menjadi pulsa-pulsa kotak yang bisa diterima sebagai sinyal digital oleh IC CMOS. Sinyal digital tadi akan diterima sebagai clock yang akan dicacah oleh IC pencacah 14024 (U2). Output 14024 akan sesuai dengan jumlah pulsa yang dikirim pemancar, perintah maju dan kiri (yang dipakai sebagai contoh dalam pembahasan bagian pemancar) merupakan pulsa sejumlah 24, hasil pencacahan pulsa ini mengakibatkan output 14024 menjadi Q4=’1’, Q5=’1’, Q6=’0’ dan Q7=’0’.

Sinyal digital yang diterima selain dipakai sebagai clock pencacah U2 IC 14024 yang dibicarakan di atas, dipakai pula untuk menggerakan 3 buah rangkaian penunda waktu untuk membangkitkan pulsa-pulsa yang berfungsi mengatur kerja rangkaian.

Pulsa pengatur pertama akan muncul setelah kiriman pulsa frekuensi terhenti karena jeda waktu antara pengiriman kode, pulsa ini berfungsi untuk merekam hasil cacahan 14024 ke U3 14042 (D Flip Flop), sehingga kondisi akhir 14024 tetap dipertahankan untuk mengendalikan motor. Setelah hasil 14042 direkam ke 14024, pencacah 14042 direset oleh pulsa kedua, agar setelah lewat jeda waktu pencacah 14042 bisa mencacah mulai dari 0 kembali.

Rangkaian yang dibentuk dengan transistor Q3, Q4, Q7, Q8, Q9 dan Q10 dinamakan sebagai rangkaian H Bridge, rangkaian ini sangat handal untuk menggerakan motor DC. Dengan rangkaian ini motor DC bisa diputar ke-kanan, ke-kiri atau berhenti gerak. Syarat utama pemakaian rangkaian ini adalah tegangan basis Q7 dan tegangan basis Q10 harus berlawanan, misalnya basis Q7=’1’ dan basis Q10=’0’ motor berputar ke kiri, basis Q7=’0’ dan basis Q10=’1’ motor akan berputar ke kanan, basis Q7=’0’ dan basis Q10=’0’ motor berhenti gerak, tapi tidak boleh terjadi basis Q7=’1’ dan basis Q10=’1’.

Demikian pula Q5, Q6, Q11, Q12, Q13 dan Q14 membentuk sebuah H Bridge. H Bridge bagian kiri pada Gambar 2 dipakai untuk mengendalikan motor yang mengatur gerak mobil-mobilan kekiri/kanan, sedangkan H Bridge bagian kanan dipakai untuk mengendalikan motor yang mengatur gerak maju/mundur mobil-mobilan.

Hubungan antara outpur pencacah 14042 dan input D Flip Flop 14024 sudah disusun sedemikian rupa sehingga sinyal yang diumpankan ke masing-masing H Bridge tidak mungkin semuanya ‘1’ secara bersamaan.


Gambar 2
Rangkaian Penerima Radio Control

Pembuatan trafo TX dan RX

Trafo T1 pada rangkaian Pemancar dan Penerima, merupakan barang yang sama, dan harus dibuat sendiri. Trafo ini dibangun dengan menggunakan koker trafo plastik (spare part radio) yang punya step sehingga tampak 5 jalur yang bisa diisi dengan gulungan kawat, seperti terlihat dalam foto. Memakai koker ini memudahkan penggulungan kawat trafo. Kalau tidak bisa dapat koker sejenis itu, pakai saja yang biasa. Koker trafo ini kecil dan feritnya juga kecil (3 mm) seperti yang dulu sering dipakai untuk perakitan radio CB 27 MHz.

Kawat untuk trafo bisa memakai kawat yang di bongkar dari koker tersebut, buka hati hati gulungan kawat yang sudah ada didalam koker karena kawatnya cukup halus dan agak mudah putus.

Langkah 1: gulung kawat dari kaki yang diberi nomor 5 ke kaki 4 searah jam (CW) sebanyak 3 gulung persis di tingkat 1 (jalur setingkat diatas jalur paling bawah)

Langkah 2: Gulung kawat dari kaki 1 ke kaki 2 searah jarum jam sebanyak 4 gulung persis di tingkat 2.

Langkah 3: Lanjutkan gulungan (dari langkah 2) searah jarum jam sebanyak 3 seperempat gulung ke kaki 3 di tingkat Tiga. (Bisa ditentukan persis seperempat gulungan, karena kokernya memiliki jalur yang dibelah menjadi 4).

Pembuatan kumparan L1

Gulung kawat tembaga ukuran diameter 0,3 - 0,5 mm sebanyak 10 seperempat gulung pada koker diameter sekitar 4 mm (yang nantinya akan dilepas) juga searah jarum jam.

Pembuatan kumparan L2

Gulung kawat tembaga ukuran diameter 0,1 mm sebanyak 50 gulung pada koker plastik tanpa ferit diameter sekitar 3,5 - 4 mm (cari bahan plastik dari barang bekas) juga searah jarum jam. Panjang bagian yang di liputi gulungan sepanjang 5 mm.

Oleh Hardy

Grab From "alds.stts.edu" offline

Remote Speaker Melalui Jala-Jala Listrik

Penempatan speaker unit pada ruang yang berbeda dengan amplifier unit tentunya akan membutuhkan kabel yang cukup panjang dan penataan instalasi kabel yang baik agar kabel yang dipasang terlihat rapi, bahkan tidak terlihat, dan menghasilkan kualitas suara yang baik. Salah satu solusinya adalah menggunakan kabel yang sudah ada, yaitu kabel instalasi listrik.

Penggunaan jala-jala listrik sebagai media transmisi sinyal audio memang bisa direalisasikan namun membutuhkan kehati-hatian dalam pelaksanaanya. Ini merupakan solusi yang baik karena tidak perlu menambahkan sebuah instalasi kabel baru untuk menghubungkan speaker dengan sumber suara, seperti radio atau tape yang dinginkan dan dapat menghasilkan kualitas suara yang baik.

Untuk membentuk sistem ini digunakan modulasi FM yang menggunakan IC yang banyak dipasaran yaitu LM566, Voltage Control Oscilator, dan LM565, sebuah detektor PLL. LM566 digunakan untuk memodulasi sinyal audio yang ingin ditransmisikan dengan metode modulasi FM dan di-mix dengan jala-jala listrik dengan menggunakan sebuah transformator. Transformator yang digunakan dapat berupa transformator MF. Pada sisi penerima, sinyal modulasi FM ini dipisahkan dari jala-jala listrik dengan menggunakan sebuah transformator MF. Dengan menggunakan LM565 maka didapatkan sebuah sinyal audio yang masih lemah.

Pada sistem ini sinyal audio yang telah dimodulasi secara FM ini akan kebal terhadap gangguan sinyal noise dan tetapi menghasilkan kualitas suara yang baik. Inilah kelebihan dari sistem yang menggunakan modulasi secara AM. Jadi dengan menggunakan metode modulasi FM, noise yang timbul pada jalur jala-jala listrik akan di-reject oleh detektor dan LM565.

Sistem ini cocok untuk transmisi suara yang memerlukan kualitas yang baik seperti musik atau pembicaraan serta dapat dioperasikan di mana saja (sebatas di dalam sebuah rumah) asalkan ada outlet jala-jala listrik.

Blok Diagram


Gambar 1

Blok Diagram Remote Speaker

Pada bagian sumber audio dapat berupa tape atau radio yang sinyalnya diambil dari konektor line out/tape out. Jika output ini tidak ada maka dapat diambilkan dari speaker output. Kondisi seperti ini akan menyebabkan volume suara di bagaian remote unit akan dikontrol oleh volume pada sumber audio.

Pada bagian transmiter unit sinyal dari audio ini dimodulasikan dengan modulasi FM yang kemudian di campur dengan tegangan jala-jala listrik dengan menggunakan couple transformer. Pemudulasian FM dilakukan dengan menggunakan IC LM566 yang dalam ini berfungsi sebagai voltage control oscilator, dimana output frekuensinya dapat berubah-ubah sesuai dengan tegangan amplitudo dari sinyal audio yang masuk pin input modulasi.


Gambar 2

Fungsi Pin Pada LM566 dan LM565

Pada bagian receiver unit, sinyal audio yang telah dimodulasikan didemodulasi dan juga melakukan reject kepada sinyal noise yang ikut diambil dari jalur jala-jala listrik. Dan pada bagian audio output sinyal audio yang telah didemodulasikan dengan menggunakan LM565 dikuatkan dengan menggunakan LM380, sebuah audio power amplifier 2.5 watt. Jika ternyata suara yang dihasilkan masih kurang kuat maka dari output LM380 dapat dikuatkan lagi dengan menggunakan sebuah power amplifier yang mempunyai daya output lebih besar.

Bagian Transmitter

Pada sistem ini frekuensi sinyal carrier yang dapat digunakan adalah 100KHz atau 200KHz sehingga jika hanya menginginkan output mono maka input sinyal bagian kiri dan input sinyal bagian kanan dicampur dan hanya menggunakan sebuah frekuansi carrier saja. Tetapi jika dinginkan output speakernya tetap stereo maka diperlukan dua set transmitter-receiver unit dengan frekuensi carrier yang berbeda.

Frekuensi carrier yang digunakan harus lebih tinggi dari 100KHz dan kelipatannya agar tidak terjadi interferensi antara sinyal carrier yang satu dengan yang lainnya.

Level tegangan sinyal input diatur oleh R1 agar tidak terjadi over modulation yaitu ketika sinyal modulasinya menghasilkan frekuensi diluar range yang dinginkan. Inilah yang biasanya menyebabkan interferensi. Untuk meningkatkan respon frekuensi sampai 20KHz dapat digunakan rangkaian C2, R7 dan R8. Rangkaian C2, R7 dan R8 ini tidak selalu harus ditambahkan.

Penentuan free running frequency (fc) pada VCO, LM566, ditentukan oleh nilai R4 dan C4. Pada rangkaian pada gambar 3, frekuensi VCO pada 200KHz. Free running frequency ini akan menjadi frekuensi dasar modulasi FM sehingga pada frekuensi 200KHz ini cukup efektif ketika sinyal ini di-couple-kan ke jala-jala listrik dengan menggunakan sebuah trafo MF.


Gambar 3

Rangkaian Transmitter Unit

Sensitivitas dari VCO pada bias 12volt sekitar ±0.66 fc/V. Agar distorsi yang terjadi menjadi minimum maka deviasi frekuensi harus dibatasi sampai ±10% pada saat level tegangan input modulasi maksimal pada ±0.15 Vpeak. Dan untuk mengatur level sinyal input ini digunakan sebuah potensiometer 10k yang berfungsi sebagai pembagi tegangan. Output dari LM566 ini diambilkan dari pin 3, yaitu pin squre wave modulated yang mempunyai level tegangan 6Vpp.

Sebelum di-couple-kan ke jala-jala listrik dengan menggunakan sebuah trafo MF, sinyal modulasi ini (berupa sinyal kotak) dikuatkan dengan menggunakan sebuah transistor 2N2222. Level tegangan di kolektor besarnya maksimal 40-50Vpp. Karakteristik ini tergantung dari besarnya VCE pada 2N2222. Karena T1 sudah di tune pada fc maka lilitan pada T1 bagian primer akan mempunyai impedansi yang tinggi yang membebani kolektor sehingga pada kolektor Q1 tidak memerlukan pembatas arus lagi. Kapasitor C8 akan mengisolasi transformator MF dari sinyal sinus tegangan jala-jala listrik 60Hz.

LM7812 digunakan untuk melakukan rejection pada sinyal dari VCO dan melakukan regulasi tegangan menjadi 12V.

Bagian Receiver

Pada bagian penerima, sinyal modulasi dipisahkan dari jala-jala listrik dengan menggunakan trafo MF, dikuatkan, dibatasi, dan didemodulasi agar kembali menjadi sinyal audio seperti yang diterima oleh bagian transmitter. Pada saat tidak ada sinyal modulasi maka bagian receiver in harus tidak menghasilkan suara apapun pada output LM380.

Sinyal modulasi/sinyal carrier di-couple secara kapasitif dari jalur jala-jala listrik kemudian ke trafo MF T1 yang sudah di­ tune. Pembeban rangkaian tank circuit dengan transistor Q (Q1A dab Q1B) dan R1 akan menyebabkan hanya ±10% sinyal modulasi yang diterima dan juga untuk mencegah terjadinya osilasi pada rangkaian tank circuit tersebut.



Gambar 4

Rangkan Receiver Unit

Impedansi lilitan sekunder T1 harus disesuaikan dengan impedansi basis transistor Q1A sehingga level tegangan carrier yang diterima akan bervariasi antara 0.2 sampai 45 Vpp sedangkan pada basis Q1a sekitar 12mV sampai 2.6V. Transistor yang digunakan disini semuanya adalah LM3046 yang di dalam sebuah kemasannya terdiri dari 5 buah transistor. Q1A-Q1D berfungsi sebagai amplifier sekaligus berfungsi sebagai pembatas yang outputnya berupa gelombang kotak yang simetri ±7Vpp. Output ini dilemahkan terlebih dahulu sampai 1Vpp dan kemudian langsung dihubungkan ke peak detektor pada LM565.

PLL pada LM565 beroperasi seperti narrow band tracking filter yang melakukan tracking pada sinyal input dan menghasilkan distorsi yang rendah pada sinyal output demodulasi dan rasio S/N yang tinggi. Osilator internal LM565 diset pada frekuensi sekitar 200KHz (fc). Nilai ini ditentukan dari fo = 1/(3.7 x R16 x R17). Agar PLL dapat me-lock frekuensi fc maka R16 kira-kira harus bernilai 4k7 atau 5k1 dengan nilai C13 sebesar 300nF. Penambahan C10 adalah untuk melemahkan sinyal carrier yang masuk ke power amplifier. Walaupun tidak dapat didengar oleh pendengaran manusia jika tidak dibatasi akan mengakibatkan power amplifier LM380 akan over load.

Rangkaian detektor mute, yang dibangun dari rangkaian D1, Q2, dan C7. Ketika tidak ada sinyal carrier maka Q1E akan ON dan akan menyebabkan sinyal audio dibuang ke ground. Ketika terdapat sinyal carrier maka 7Vpp sinyal kotak akan dideteksi level tegangan puncaknya dan diintegralkan kemudian di rata-rata dengan rangkaian R9C7 dan R11C6 dan akan menghasilkan tegangan rata-rata sekitar –4V. Tanpa rangkaian mute ini maka pada saat tidak ada sinyal carrier maka ada kecenderungan pada PLL untuk melakukan lock sinyal noise dan hal ini tidak dinginkan. Output dari LM380 dapat langsung dihubungkan ke speaker 8W melalui sebuah kapasitor couple sebesar 470uF.

Setting Frekuensi Carrier

Pengaturan frekuensi carrier dapat dilakukan dengan mudah karena hanya sedikit bagian yang memerlukan pengaturan. Frekuensi sinyal carrier yang dihasilkan oleh transmitter unit ini berada pada sekitar 200KHz yang ditentukan oleh nilai R4 dan C4. Nilai R4 dan C4 tidak perlu terlalu presisi.

Yang paling penting adalah melakukan tune pada T1 pada kedua unit tersebut, unit transmitter dan unit receiver agar dihasilkan output sinyal carrier yang paling tinggi. Untuk penempatan receiver unit yang agak jauh maka pada bagian receiver perlu dilakukan setting ulang yaitu pada bagian PLLnya. Pengaturan dilakukan dengan mengatur nilai R16 sampai PLL tidak lagi melakukan lock yang ditandai dengan munculnya noise semakin besar. Buatlah tanda pada potensionmeter R16 ini kemudian ulangi lagi dengan memutar potensiometer ini ke arah yang berlawanan sampai PLL kembali tidak dapat melakukan lock sinyal carrier. Tandailah posisi ini dan kemudian aturlah potensiometer ini pada posisi ditengah-tengah tanda yang telah dibuat.

Setting terakhir yaitu pada volume suara yang dapat diterima oleh receiver unit. Aturlah agar sinyal audio yang akan dimodulasi besar level tegangannya tidak lebih dari 0.1Vpp. Pengaturan ini dapat dilakukan dengan mengatur R1 pada transmitter unit.

Aplikasi dari sistem carrier ini tidak hanya pada remote speaker tetapi dapat pula untuk intercom. Untuk sistem yang full stereo atau sistem quadraphonic (4 speaker- 2 rear dan 2 front) maka diperlukan rangkaian transmiter-receiver untuk tiap-tiap channel yang dinginkan dengan frekuensi carrier yang berbeda. Perbedaan frekuensi carrier tidak boleh kurang dari 40KHz karena lebar frekuensi yang diperlukan untuk sistem ini adalah 2x20KHz.

Materi Lain Yang Dapat Didownload :

Skematik rangkaian lengkap proyek Remote Speaker Melalui Jala-Jala Listrik dalam format PDF :

· Rangkaian Carrier Transmitter

· Rangkaian Carrier Receiver


Oleh Susanto Wibisono Koselan

Grab From "alds.stts.edu" offline